Dari Keprihatinan ke Solidaritas (1970–1975)
Berawal di Paroki Pusat Damai, Kabupaten Sanggau, di mana masyarakat dan para guru hidup dalam keterbatasan ekonomi, sebagian besar keluarga bergantung pada hasil ladang atau gaji kecil para guru Katolik. Dalam keadaan demikian, banyak orang tua kesulitan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Para guru dan katekis yang bekerja di bawah Yayasan Perum Pontianak mulai menggagas “Toko Bersama” tempat mereka membeli kebutuhan pokok dengan sistem kepercayaan dan pembayaran di akhir bulan. Dari usaha sederhana itu tumbuh keyakinan baru: bahwa perubahan dimulai dari kebersamaan dan kejujuran.
Pada 24-28 Agustus 1975, Keuskupan Agung Pontianak melalui Delegatus Sosial (Delsos) mengadakan kursus/sosalisasi tentang Credit Union di Sanggau yang difasilitasi oleh Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I). Paroki Pusat Damai mengutus lima perwakilan yaitu: D. Djiwa, P. Dael Pongkuk, Bass Kasan, St. Atjin, dan Suster Aloysia Limai. Sepulang dari kursus tersebut, mereka segera melakukan sosialisasi yang diikuti sebanyak 23 orang. Kursus tersebut diikuti oleh para guru SD, SMP, dan karyawan Paroki Pusat Damai.
Kelahiran dan Nama "Lantang Tipo"
Pada 2 Februari 1976, diadakan rapat pembentukan Pra-CU Pusat Damai, dihadiri oleh 27 orang pendiri, yaitu:
1. St. Atjin – SDS Pusat Damai (Guru)
2. Ignatius Supryono – SDS Pusat Damai (Guru)
3. R. Subagio – SDS Pusat Damai (Guru)
4. H. Suratman – SDS Pusat Damai (Guru)
5. Paris Udin – SDS Pusat Damai (Guru)
6. A. Adjung – SDS Pusat Damai (Guru)
7. E. Acang – SMP Pusat Damai (Guru)
8. B. Pius Onomuo Et – SMP Pusat Damai (Guru)
9. P. Dael Pongkuk – SMP Pusat Damai (Guru)
10. Irenius – SMP Pusat Damai (Guru)
11. Marsel Maran – SMP Pusat Damai (Guru)
12. Bass Kasan – Paroki Pusat Damai (Tokoh Umat)
13. D. Djiwa – Paroki Pusat Damai (Tokoh Umat)
14. R. Anggoi – Paroki Pusat Damai (Tokoh Umat)
15. B. Banti – Paroki Pusat Damai (Tokoh Umat)
16. M. Sakino – Guru Sebotuh (Guru)
17. D. Tjoling – Guru Sebotuh (Guru)
18. A. Lidos – Guru Sebotuh (Guru)
19. Amat – Guru Sengoret (Guru)
20. Biden – Guru Sengoret (Guru)
21. Caling – Guru Tantang B (Guru)
22. Pines – Guru Tantang B (Guru)
23. Abas – Guru Tantang B (Guru)
24. Y. Kimin – Guru Baharu (Guru)
25. P. Silvester – Guru Kampuh (Guru)
26. Watt Bintang – Guru Kampuh (Guru)
27. Bruno – Guru Kampuh (Guru)
Dalam musyawarah yang dihadiri para pendiri, Engelbertus Acang mengusulkan nama “Lantang Tipo.” Dalam bahasa Dayak Pandu dan Dayak Hibun, “Lantang” berarti tunas, “Tipo” adalah sejenis tumbuhan hutan mirip lengkuas yang bila dipotong akan tumbuh kembali. Nama ini mengandung makna spiritual yang mendalam: gerakan ini adalah tunas kehidupan yang pantang menyerah, selalu tumbuh kembali meski diterpa kesulitan.
Dari kelompok kecil berjumlah 27 orang dengan modal iuran ratusan rupiah, kini CU Lantang Tipo telah tumbuh menjadi salah satu Credit Union terbesar di Indonesia dengan ratusan ribu anggota dan puluhan kantor cabang. Keberhasilan ini adalah bukti bahwa "Iman yang bekerja melalui kasih" dan kejujuran mampu mengubah nasib sebuah peradaban ekonomi masyarakat.
Site was created with Mobirise